Wednesday, September 15, 2004

SARJANA

Subject: SARJANA
From: Bayu Indra
Date: Fri, 2 May 2003 10:10:32 +0700


SARJANA

Mohammad Suwandi : "Salut bagi yg semangatnya masih OK u/ nerusin kuliah ... "
Kadang cukup satu kalimat dari seorang teman untuk membuat otak mengingat satu tema besar yg perlu ditulis, diangkat dan dibagi. Yg pertama terlintas saat baca tulisan MS diatas adalah : "Salut saja tidak cukup! Kuliah juga dong....! "


Waktu masih kecil dulu paling sering dengar Nenek (soalnya ikut nenek) cerita ke sodara yg lain, tiap kali ada sodara yg sekolahnya pinter : "Oh iya, si anu memang pinter, nggak aneh soalnya bapak-ibunya juga sarjana". Keseringan dengar komentar demikian lama2 tertanam di otak saya kalo kesarjanaan itu begitu hueboh, sulit diraih, mesti bermodalkan kualitas otak yg super, dan satu lagi : Mahal (soalnya kebanyakan sodara2 yg sarjana itu ya bisanya secara ekonomi emang baik). Jadinya saya tumbuh tanpa pernah punya mimpi suatu hari nanti akan jadi sarjana, karena saya tau, secara ekonomi keluarga saya bukanlah yg termasuk yg ekonominya baik tadi.

Yg lebih sering nenek saya ucapkan selain kalimat diatas adalah, bukan Cuma "sarjana" tapi juga lebih spesifik : Dokter. Jadi kalau dengan logika anak kecil saya waktu itu, anak yg bapak ibunya dokter, itu nggak bisa diajak saingan, pasti pinter banget deh.

Waktu dimana keputusan yg kruisal harus diambil adalah saat lulus SMP. Sekedar info saya selalu juara kelas selama SD-SMP. Bahkan terakhir juara umum 2 SMP negeri 5 Surakarta. Saya nggak terlalu bangga dengan hal itu, karena saya termasuk orang yg pinter by gift, bukan karena rajin seperti teman saya yg juara umum 1. A gift semacam itu, pujiannya hanya untuk yg memberi gift. Saat lulus SMP itu saya harus memutuskan untuk masuk SMA dengan konsekuensi nantinya harus meneruskan ke universitas yg biayanya sama sekali tak terbayangkan akan tersedia, bahkan semua sodara2 saya angkat tangan untuk menjamin kalo saya sanggup mereka akan bayarin, atau masuk sekolah kejuruan semacam STM agar
bisa langsung kerja setelah lulus.


Seperti yg kita semua sudah tahu, saya malah masuk PKKT. Sebuah jalan keluar yg tak disangka-sangka. God knows what to do my friend, we just have to be prepared when the job is coming.

Sekarang, setelah lulus PKKT, dan bekerja lebih dari 10 tahun. Berteman dan berekan kerja sejajar dengan para sarjana, saya tau ternyata semua yang saya mengerti tentang sarjana saat saya masih kecil dulu tidak sepenuhnya benar. Untuk menjadi seorang Sarjana tidak harus pinter (jadi anak2nya belum tentu pinter juga ;-)), dan yang jelas sama sekali tidak mahal. Bahkan ternyata banyak yg bersedia membiayai anak2 yang pinter untuk menjadi sarjana, dikenal sbg scholarship atau beasiswa. Makna Sarjana di otak saya, jauh ter-degradasi.
Pun begitu, saya mulai kuliah th 1999, saat usia udah 29 tahun. Motivasinya apa?
Ternyata masih ada yang tertinggal dikepala sebagai sebuah obsesi : Kesarjanaan, adalah sebuah simbol dari titik akhir dari semua jenjang pendidikan. Seseorang bisa disebut selesai sekolah, saat dia sudah sarjana. Es satu. Tidak setiap orang diberi Tuhan cukup kapasitas dikepalanya untuk menyelesaikan tugas yang ini, tapi saya tahu saya diberi kapasitas itu, jadi saya wajib menyelesaikannya, saat semua faktor diluar kemampuan kepala bisa diatasi, maka saya wajib menyelesaikannya. Tuhan telah memberi otak yang baik di kepala saya, adalah suatu kemubaziran bila saya tidak menggunakannya untuk menyelesaikan seluruh jenjang pendidikan utama.


Itu makna kesarjanaan buat saya.

Ijazah, peluang karir yg lebih terbuka, posisi yg mungkin disesuaikan, pada akhirnya cuma sebuah akibat dari kesarjanaan itu sendiri. Bukan tujuan. Bukan target yg harus dikejar-kejar.

Teman2,
Kita semua, alumni pkkt, rata2 punya kapasitas otak yang sama.
Akhir tahun ini insya Allah, kalau tidak ada aral melintang, saya bisa menyelesaikan S1 saya di universitas Gunadarma. Mohon doa restunya.


Sarjana, buat kita, bukan masalah "Bisa", tapi masalah "Mau".

Regards,
BI-L9


Additional comments on 15 September 2004 :
As I know now,
gw berhasil lulus sarjana Oktober 2003. 8 bulan kemudian gw pindah kerja ke Bangkok, salah satunya karena udah sarjana tadi yg ternyata termasuk salah satu syarat. Siapa pernah menduga hal itu saat dulu gw mulai kuliah...???
BI

No comments: