Thursday, April 28, 2005

Tidak ada yg memotong jalur ...

Pagi ini, Bangkok diguyur hujan lebar, dan petir serta geledek masih
menyambar serta mendung terus menggantung sampai jam 8 pagi. Seperti
juga di Jakarta, hujan di rush hour seperti itu, bikin macet dimana2.

Seperti biasanya saya akan naik kapal melewati kanal buatan itu ke
kantor, yg tentu saja tidak kenal macet seperti kalo naik bis, atau
taxi. Karena harus ke bank dulu, kali ini harus naik dari pier ke dua,
dan bukan dari pier awal di bawah apartemen. Dalam keadaan normal,
mestinya lebih enak, karena naiknya dari sisi sebelah kanan, jadi bisa
duduk di sebelah kanan, shg nanti turunnya gampang di pier bawah kantor
yg kebetulan di sebelah kanan kanal pula.

Sayangnya hari ini gak biasa. Pier kedua yg dekat pasar bangkapi itu,
tidak seperti biasanya jam setengah sembilan keatas, masih banyak banget
orang. Dan tidak seperti biasanya juga, kapal yg datang, meski baru pier
kedua, sudah penuh banget. Semua tempat duduk yg muat seratus orang-an
itu sudah penuh. Tinggal ruang untuk berdiri. Pun, lebih dari duapuluh
orang yg menunggu di pier tsb masih muat juga kedalamnya.

Di sepanjang jalan, eh, kanal menuju kantor ada 10 pier. Hampir semua
pier2 tsb ternyata penuh dg orang yg menunggu kapal. Tentu saja dari
sekian banyak orang hanya satu atau dua yg bisa masuk, nyempil disela2
orang yg berdiri. Sisanya menunggu kapal berikutnya. Sebenarnya agak
aneh bahwa di jam segitu penumpang bisa lebih banyak daripada kapalnya.
Tapi segera ketemu jawabnya, rupanya orang menunggu sampai hujan reda
tadi pagi shg jadinya tumplek blek di jam yg sama.

Sebenarnya, kalo saja ada satu kapal saja berbalik arah, memotong jalur,
memotong rute yg sudah semestinya sampe pier terakhir sana, itu kapal
pasti akan penuh hanya dg penumpang dari dua pier. Ternyata tidak ada
satupun kapal yg begitu. Tidak ada yg memotong jalur. Semua tertib
bergerak sampai titik akhir tujuan dulu, meski mungkin penumpang tinggal
bbrp orang. Gak ada penumpang yg dioper ke kapal berikutnya.

Kalo menurut ukuran sopir metromini di jakarta yg suka jalan Cuma
setengah rute nyari enak itu, sopir2 kapal ini pasti dibilang sangat
bodoh, gak mau memanfaatkan kesempatan yg ada. Definisi bodoh di
indonesia kan kadang sangat aneh. Misal kalo ada pegawai kantor pajak yg
miskin terus atau sekedar pas-pasan, itu juga pasti dibilang sangat
bodoh. Jaman kerusuhan 14 Mei 1998 dulu, saat masih ngontrak di
rawasari, tetangga2 banyak yg ikut menjarah barang2 di dari toko2 yg ada
dipinggir jalan. Bahkan jadi cerita kebanggaan antar tetangga, si ini
dong, dapet kulkas, si itu dong dapet tv. Yg gak ikut2 menjarah, tentu
saja lagi2 dibilang sangat bodoh.

Tapi di Bangkok tidak begitu. Tidak ada kapal yg memutar memotong jalur.
Kalo malam bahkan banyak kapal yg karena memang jatahnya Cuma "pulang"
ke pier di ujung satunya, harus jalan cepet2 dalam keadaan kosong, gak
mau ngambil penumpang dari kapal temannya meski kapal tsb sudah penuh
banget. Kadang gak habis pikir juga sama "disiplin" yg ada.

Tapi dg "kebodohan" macam itulah kepastian jadi terjaga. Kepastian
sampai ke tujuan tanpa harus dioper2 meski uang dikembalikan. Dg adanya
kepastian penumpangpun merasa aman, tak harus risau setiap kali naik
kapal mesti berpikir pagi ini dioper dimana atau turun di mana seperti
naik metromini yg selain suka motong suka juga naik tol sembarangan.

Tapi kita, di indonesia, lebih suka membuang kepastian2 dan menggantinya
dg kreatifitas biar tidak "bodoh". Kreatifitas muter motong jalur,
kreatifitas menjarah saat gak ada polisi, kreatifitas korupsi saat bisa
dilakukan bersama2 ...

Bangkok,
28 April 2005
BI

No comments: