Thursday, August 19, 2004

Gone By The Klong

GONE BY THE KLONG

Ini kedua kalinya,
Pulang kantor naik perahu motor asal jadi berukuran kira2 10x2.5 meteran,
Dengan mesin yang menderu2 berada menonjol di tengah kapal mengurangi tempat buat berdiri,
Dengan tempat duduk kayu melintang badan kapal di sepanjang sepertiga depan dan sepertiga belakang,
Dan tutup samping berupa terpal plastik yang ditarik model timba dengan tali2 pengikatnya agar ujungnya keatas melindungi penumpang dari air kali yang kotor pekat nyaris kental….

Serta tali2 membujur dibawah atap untuk penumpang2 yg berdiri berpegangan….

Kedua kalinya.

Pertama karena terpaksa sebab Bangkok sehabis hujan deras di sore hari kadang2 bisa mendadak berubah jadi kota tak beraturan : tak ada bis kosong yg bisa dinaiki, yg penuh pun teramat jarang datang,

Dan tak ada satupun taxi.
Semua terjebak macet berkilo2 meter dengan ujung sekian blok dari jalan depan kantor.

Yg kedua ini rela,
Karena ternyata naik perahu ini enak.
Cukup 20 menit untuk perjalanan yang dengan bis bisa ditempuh sampai dengan satu jam,
Cukup 11 Bath untuk sejauh 7 km mengarungi air sungai yang berombak-ombak menerjang tembok pembatas di pinggir kanal…
Hampir sama dengan bis, karena nanti toh harus di sambung dengan bis juga,
Jauh lebih murah dari taxi yang selalu diatas 60 bath karena start taxi yang memang sudah mahal 35 bath.

Dan yang kedua ini tidak sehabis hujan deras nan lama…
Jadi permukaan air masih cukup jauh dari besi forbes alas pier yang kebetulan pas dibelakang gedung Charn Issara 2
Tidak seperti yg pertama,
Saat itu air naik hampir menyentuh tempat kita berdiri menunggu,
Bahkan sempat naik menyentuh alas sepatu saat berombak diterjang perahu yang lewat.

Jadi kali ini, menunggu disitu bisa santai,
Tidak dengan was2 melihat air sungai selebar 20 meteran yang menggelegak-gelegak seolah ingin tumpah dari tempatnya yang hasil rekayasa.

Sudah hampir setengah delapan, Bangkok baru setengah jam lalu gelap dibulan Agustus.
Tak terlihat lagi kotor dan pekatnya air kali
Hanya buih2nya yang sesekali ke atas….
Angankan saja itu buih ombak di pantai sebuah pulau kecil lepas Pattaya yang airnya jernih,
Hanya kali ini tidak ada pasir,
Tidak ada orang2 pakai bikini,
Tidak ada banana boat dan jet ski.
Hanya aku, dan satu orang perempuan, karyawati juga dari pakaiannya, menunggu.

Satu perahu datang mengendap-endap dengan sinar lampu pas2an dari kejauhan,
Dari ujung kali yang gelap.
Bergerak melambat menuju pier tempat kita berdiri,
Seorang "kondektur" segera melompat ke pier dan memutarkan tali ke tiang besi di pinggiran pier
Menjaga agar perahu agak merapat dan memberi kesempatan kita untuk melompat ke tepian badannya yang selebar 20 cm dan menangkap tali disepanjang samping perahu cukup tinggi dari kayu kita berpijak untuk berpegangan…

Tapi perahu itu terlihat sangat amat penuh…
Hanya satu tempat kelihatan memungkinkan bagi kita untuk naik dan menyelipkan kaki, berpijak di dalamnya…
Jadi mari menunggu perahu berikutnya...

Belum sebatang rokok L&M habis terhisap perahu berikutnya sudah datang,
Kali ini nampaknya masih menyediakan bbrp tempat tersisa…
Hup!
Blom lama berdiri dan mengamankan diri dari cipratan2 air kali yang kalau kecebur didalamnya dijamin kalau nggak mati tenggelam, ya mati keracunan, sang kondektur sudah menagih ongkos..
20 bath, kembali 9 bath lengkap dengan tiketnya…

Berikutnya adalah perjalanan di kegelapan mengarungi kanal buatan di Bangkok,
Satu tempat kita sampai ingin ikut menunduk karena melewati pintu air yang dibuka pas setinggi atap perahu,
Satu tempat perahu sempat berhenti benar2 memberi kesempatan banyaknya penumpang yang turun dan naik, tidak seperti kalo hanya ada satu penumpang dimana dia hanya melambat.

Dan disitu banyak perempuan2 turun naik memakai rok,
Sedang aku merasa kesulitan melompati tutup terpal samping kapal ini dengan celana panjang…

Disepanjang kali yg menyembunyikan wajah aslinya di gelap malam itu,
Ada tembok2 pembatas kanal dan jalan setapak kecil yang sudah miring dan bahkan runtuh….
Ada rumah2 kecil berdiri diatas air hanya ditopang tiang2 kayu seperti yang banyak ditemui di Cilincing Priok,
Hanya disini rumahnya lebih permanen, meski tetap kumuh,
Dan hanya ada di beberapa titik saja, tidak di sepanjang kali seperti Ciliwung,
Meski sempat juga melihat seorang bapak sedang menumbuk sesuatu di alat semacam alu yang sering dipakai untuk membuat Somtam, sejenis salad pepaya muda khas Bangkok, jadi bertanya2 Kalo itu membuat Somtam, apakah dia juga menggunakan Ketam kali mentah
Dan apakah dia tangkap ketamnya langsung dari kali dibawah rumahnya….

Ada masjid lumayan besar di salah satu daerah muslimnya

Ada tiang2 besar seram penyangga jembatan2 yang beberapa diantaranya nampak begitu besar dan rumit karena merupakan jalan besar utama yang biasanya bertingkat dua macam by-pass Cililitan-Priok, atau bahkan tiga ...

Sekali lagi membayangkan buih2 air yang meriak2 dihempas perahu ke tepi2 kanal sebagai ombak dilaut lepas membuat perasaan lebih tenang,

Meski kadang bau anyir yg sesekali muncul di lorong2 jembatan tertentu tak bisa lagi berbohong,
Ah, ini memang bukan perahu wisata tertutup yg nyaman di sungai yang mengitari kota Stasburg di perbatasan Prancis - Jerman sana….

Ini juga bukan sungai seperti di Venecia yg bisa diselami seperti pada salah satu adegan film Italian Job
Ini hanya kanal buatan di Bangkok,
Yg biarpun katanya Venecia dari Asia, hanya pada substansinya bahwa disini ada kanal dan perahunya yang digunakan untuk transportasi masa…

Pasti, pier tempat ku turun, di plasa The Mall Bangkapi mendekat…
Sebentar sang ego sempat teriak di sela kemauan untuk menikmati perjalanan ini.
Katanya : "Jauh2 ke Bangkok masih naik kapal jelek penuh resiko di kali yg super butek…!!!"
Ah temanku ego,
Kalo bukan kau satu2 nya yang selalu membangunkan diri saat mulai terlena dalam kenyamanan panjang yang mematikan jiwa, aku sudah campakkan kau ke kanal ini…,
tidakkah kau ingat, transportasi adalah bergerak dari satu titik ke titik yang lain.
Apapun medianya, mestinya lebih kita perhatikan substansinya……
perahu di kanal butek, bis, taxi, ataupun mercedes seri terbaru, tidakkah sama2 membawa sampai ke apartemen kita? Tempat beristirahat dan bertemu keluarga?

Perahu mulai merapat ke pier the Mall,
Mendarat tepat di belakang parkiran plasa terbesar di daerah Bangkapi itu,
Bahkan di parkiran, jalan menuju ke jalan raya di depan disediakan khusus…
Tapi harus keliling dulu di mall nan bersih itu,
Ada titipan untuk beli minyak goreng di super marketnya,
juga persediaan yoghurt yg cuma 2 ribuan rupiah - jauh lebih murah dari Jakarta….


Bangkok,
Tujuh belas Agustus dua ribu empat
BI

Ps. Klong : Kanal/ sungai kecil dalam bahasa Thailand



No comments: